SEBUAH PERBUATAN AKAN BERCAHAYA BILA BERBAHAN BAKAR KEIKHLASAN »
From: Mohammad Yasser Fachri
Kiriman dari seorang anggota eDakwah: Jeffry Husman
SEORANG kawan senang betul shalat sunnah kalau ia berada di kota lain.
Memang, Rasulullah saw mengatakan bahwa jika kita bepergian jauh,
begitu sampai di tempat tujuan segera menegakkan sholat sunnah dua
rakaat. Itu merupakan tanda syukur kita sudah sampai dengan selamat.
Suatu hari ada seorang teman pergi ke satu tempat. Sebagaimana biasa,
ia mencari masjid atau mushala. Layaknya orang yang mau sholat, kawan
ini mencari toilet dan tempat wudhu. Tapi, langkah dia tiba-tiba
terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya dikenali. Sebut saja
bernama Fulan, kawan SMP yang sangat pintar. Untuk sementara dia
tertegun. "Tidak salahkah penglihatanku? " tanyanya pada diri sendiri.
Fulan yang tengah membersihkan toilet dan tempat wudhu itu diamati
beberapa saat. Pria itu berbaju khas merbot masjid; kaosan, celana
buntung, dengan peci haji yang didongakkan ke belakang kepala. Fulan
tengah mengepel.
"Assalamualaikum. ..," sapa dia dengan hati-hati, khawatir salah
mengenali seseorang. Ternyata penglihatannya tidak salah. Yang di
depan mata benar-benar Fulan, kawan dia. Fulan juga mengenali diri
dia, dan menanyakan urusan datang ke kota ini.Masih di koridor tempat
wudhu masjid tersebut, kawan ini melanjutkan pertanyaan, "Kenapa Fulan
hanya jadi merbot masjid? Dan, kenapa mau?" Yang ditanya tersenyum.
"Memangnya ada yang salah dengan kerjaan ini? kan,bagus. Dengan saya
menjadi merbot, masjid ini jadi bersih. Kalau bersih, kan yang sholat
jadi senang. Betah. Akhirnya saya pun dapat pahalanya," ujarFulan."
Tapi, penghasilannya kan tidak sepadan. Lagian Fulan kan dulu pintar.
Cerdas. Sangat cerdas malah. Selalu ranking, kok kayaknya gimana,
gitu....?
Fulan kembali tersenyum, dengan tangan kiri tetap mengelap sisi
pinggir tempat wudhu."Gimana kalau Fulan ikutan sama saya?"
"Maksudnya?"
"Ya, kerja sama saya. Fulan bisa saya gaji lebih besar dari
penghasilan sebagai merbot ini. Ngomong-ngomong jadi merbot digaji
nggak?"
"Nggak." "Wuah, apalagi nggak. Sudah kerja sama saya saja. Pendidikan
terakhir?" "Sarjana elektro," katanya. "Waduh, tambah nggak pantaslah.
Masak sarjana elektro jadi merbot. Yang beginian mah, maaf, nggak
perlu tamatan elektro. Cukup tamat SD saja. Maaf ya, Mas. Cuma
rasanya, gimana gitu saya melihatnya.. .." "Ya, sudah," jawab Fulan,
"Shalat saja dulu, Mas. Nanti kita ngobrol lagi. Sambil ngopi, biar
saya buatkan sekalian."
Kawan ini pun mengambil air wudhu, sambil tetap mikirin Fulan. Kala
dia mau mengambil posisi shalat, seorang anak muda yang tampaknya juga
merbot masjid bertanya, "Pak Haji, Bapak kenal Pak Haji Fulan, ya?"
"Iya. Dia kawan saya waktu di SMP, dulu...." "Pak Haji, Pak Haji Fulan
itu yang bangun ini masjid. Dia orang kaya di sini...." kata anak muda
tersebut dengan datar. "Orangnya baik, Pak. Rendah hati. Sederhana.
Padahal amalnya buanyak...." Tidak berhenti di sini, si anak muda itu
pun bercerita bahwa Haji Fulan adalah pengusaha alat-alat listrik dan
toko bangunan yang maju. Dia pengusaha daerah yang sangat cinta
masjid. Dia mengaku dapat semua keberkahan ini karena sangat menjaga
shalat berjamaah dan mencintai masjid. Makanya, kala sukses, dia
membangun masjid kecil ini. Begitulah cita-cita dia. Bahkan dia
berangan-angan untuk berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang shalat di
masjidnya. Pelanggan-pelanggan nya pun tahu kalau mau mencari Haji
Fulan, temui saja di masjid dia.
Masya Allah. Hati kawan ini tiba-tiba saja merasa malu. Ia telah
merendahkan "jabatan" merbot masjid. Apalagi, ternyata Fulan inilah
yang berada di balik pembangunan masjid tersebut. Dia berpikir, andai
"merbot" tersebut adalah diri dia, dan orang menyangkanya sebagai
pembersih masjid, pasti bakal diluruskan, "Maaf, saya lho yang
membangun masjid ini. Saya mah kebetulan saja senang membersihkan
masjid." Masya Allah, Fulan adalah sosok lain. Dia justru
menyembunyikan amalnya.Ikhlas nian. Kawan ini beristigfar. Tanpa perlu
gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba- Nya yang ikhlas.
Allah yang bangga terhadapnya, dan membuat anak muda tadi berbicara
tentang siapa sebenarnya Fulan. Keikhlasannya membuat Fulan bercahaya.
Bahkan makin bercahaya.". ..
"...Dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.. ."
(QS Al A'raf [7]:29)
Senin, 31 Agustus 2009
Boleh Panggil Ayah?
Boleh Panggil Ayah
Yuli Pujihardi - detikRamadan
Jakarta -Memberi tak selamanya berbentuk uang, kisah berikut ini saya dengar lagi dari sahabat saya Mas Jamil, saat ia memberikan penutup dalam rangkaian Anugerah DD award yang belum lama ini dilakukan.Ya, kisah ini membuat saya semakin sadar bahwa sebagai manusia mereka membutuhkan banyak hal dan kadangkala tidak selamanya berbentuk materi. Berikut tuturnya:Suasana ulang tahun Soraya anakku di Panti Asuhan Raudathul Jannah benar benar meriah, semua tertawa gembira menyaksikan badut-badut yang memang sengaja diundang untuk meramaikan ulang tahun anakku yang hari itu merayakan ulang tahunnya yang keempat.Tembok dan bangunan gedung panti asuhan itu belum banyak yang berubah, bahkan kini cat putih yang biasa menyelimuti gedung itu kini semakin bersih. Pohon mangga yang biasa kami jadikan tempat berteduh, sedang berbuah lebat sekali. Wajah Ustad Ahmad pemilik panti, yang bersih kini semakin terlihat bersinar walau rambutnya mulai ditumbuhi rambut putih menyeluruh di rambutnya.Ingatanku menerawang menembus kuat sekali pada kembali pada masa-masa ketika aku di rumah yatim piatu ini 25 tahun yang lalu. Aku teringat kecerian dan kegembiraan bersama teman-teman ketika mendengar akan ada orang kaya yang ingin berulang tahun di panti asuhan dimana aku tinggal, karena itu berarti kami bisa makan enak, bisa dapat kado, bisa bernyanyi bersama. Aku tersenyum kecil, malu rasanya mengingat hal itu.Di panti, dulu aku dikenal sebagai anak nakal, karena selepas mengaji setiap magrib, aku tak langsung belajar, melainkan nonton TV di rumah Anton teman sekolahku yang juga tetangga panti, bahkan seringkali aku harus pulang berjingkat-jingkat agar tak ketahuan Bapak Ust Ahmad. Karena jika terlihat aku pulang dari menonton, aku bakal harus menulis berulang-ulang 'saya ingin belajar agar bisa sukses' hingga seratus kali dan besoknya selepas subuh masih harus menimba air bak mandi.Aku tahu Abah Ahmad, demikian sekarang anak-anak santri menyebutnya, tak menyangka aku hadir lagi di sini bahkan dengan keluargaku. Ia telah menyaksikan aku sukses. Ini pasti juga karena doa-doa yang ia panjatkan setiap kami selesai salat lima waktu."Ayah, kapan lilinnya ditiup, aku sudah tidak sabar lagi nih," ujar Soraya mengejutkan aku, sambil bergelayut manja, di bahu tanganku. Tangannya yang mungil itu mulai mengelus-elus janggut tipisku."Oh ya, sekarang aja kita mulai," ujarku sambil mengajak Ustad Ahmad mendekat."Kita akan mulai acara ini dengan sama-sama membaca basmalah," kataku lagi.Aku jelaskan kehadiranku di yayasan yatim piatu ini, sementara Soraya sudah mulai mendekati kue tar, ia ingin segera mungkin meniup lilin. "Selanjutnya adalah doa untuk Soraya, yang akan dipimpin oleh Ustad Ahmad.""Anak-anaku sekalian, bergembiralah, hari ini ada saudara kita yang berulang tahun, Soraya, putri Pak Budi ini berulang tahun dan memilih tempat di rumah kita. Mengapa demikian, karena beliau dahulu juga seperti kalian, pernah tinggal di rumah ini, ia ingin kembali mengenang masa-masa dulu. Dan alhamdulilah kini beliau telah sukses hidupnya, bahkan kini ia bekerja pada sebuah bank asing terkenal di Indonesia," tutur Pak Ahmad perlahan, suaranya makin lama makin mengecil."Mari kita doakan juga semoga Soraya menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya, menjadi anak yang solehah, dan sesukses ayah dan ibunya, amin. Anak-anakku, kalian bisa seperti Pak Budi jika kalian belajar dengan tekun dan bekerja dengan cerdas, bukan demikian Nak Budi?" katanya sambil menoleh ke arahku.Aku tak menyangka bakal ada pertanyaan seperti itu hanya dapat mengangguk perlahan. Semua mata memandang ke arahku. Akhirnya acara berdoa pun selesai. Soraya menyegerakan meniup lilin sementara istriku menyiapkan makanan dan membagi-bagikan kado dibantu badut-badut dari perusahaan restoran terkenal tempat ia bekerja. Semua nampak bergembira.Namun di sudut lain dekat pintu masuk ruangan pertemuan itu, aku melihat tatapan kosong dari pancaran mata anak kecil yang sedari tadi terdiam. Ia tampak tak segembira rekan-rekan lainnya, kalaupun bertepuk tangan seperti tak semangat. Seperti tak punya api kehidupan, bahkan tiba-tiba, terlihat olehku, mata anak kecil itu semakin meleleh, kian deras.Perlahan aku bergeser mendekatinya, kusaksikan bulir-bulir air bening mulai menetes di sela-sela pelupuk mata. "Nama Kamu siapa dan kenapa menangis?" tanyaku.Ia terdiam. Menatapku dalam-dalam. Kepalanya tertunduk, lalu berkata, "Saya Ita, Om. Boleh nggak aku minta sesuatu?" katanya perlahan"Boleh. Ita minta apa sayang? kataku perlahan."Tapi Om nggak marah dan mau memenuhi permintaan Ita?" tanyanya lagi."Nggak. Om nggak akan marah, memang Ita minta apa sih, Ita mau tas sekolah ya?" tanyaku lagi."Om benar nggak akan marah?" tanyanya lagi sambil menatap wajahku."Tidak. Om tidak akan marah, Om mau dengar kamu mau minta apa sih? kataku lagi."Om, Ita mau panggil Om ayah, Ita ingin punya ayah," katanya perlahan."Ita ingin seperti Soraya yang juga punya Bapak, punya Ibu, yang mau menemani Ita kalau ambil rapor seperti teman-teman Ita yang lain," lanjutnya lagi."Lho Ita kan sudah punya Ustad Ahmad di rumah ini."Ia mengeleng-gelengkan kepala. "Maksud Ita bukan itu Om. Ita ingin punya Bapak," ujarnya perlahan nyaris tak terdengar."Om, boleh kan kalau ita panggil Bapak," katanya sambil menatap mataku. Seperti tersengat listrik mendengar ungkapan itu. Aku tak menyangka sama sekali bahwa ia akan meminta itu kepadaku. Tatapan matanya meminta persetujuanku. Aku tak kuasaberdiri, seluruh persendian itu tiba-tiba terasa lepas, aku langsung bersujud, kupeluk anak kecil itu, sementara Soraya anakku menyaksikan semua.Dekapan itu begitu erat seperti tak ingin terlepas sebentar sekalipun. Jari-jari yang mungil semakin keras mencengkram pundakku. Aku jadi teringat cengkeraman anakku kalau ia marah jika tak jadi kubelikan kue kesayangannya. Ah, sekeras apapun cengkaraman itu tak terasa sakit sama sekali, bahkan yang kurasakan adalah kehangatan. Isak tangis itu pun perlahan-lahan berhenti. Ita mulai merenggangkan dekapannya. Aku pun perlahan mulai memegang pundaknya.Seraya menatap wajah anak itu. Ita tersenyum, bahagia sekali. Aku pun demikian. Sementara Soraya anakku semakin mendekat, lalu aku dekapkan keduanya di dadaku dalam-dalam. Semua menangis haru.Penggalan kisah di atas adalah kisah yang benar-benar terjadi, atau bisa jadi kita sendiri pernah merasakan itu. Oleh sebab itu janganlah pernah berhenti untuk memberi. Jangan pernah berhenti memberi apapun. Amin.*) Yuli Pujihardi adalah Corporate Secretary & Resources Mobilization Dompet Dhuafa.
Yuli Pujihardi - detikRamadan
Jakarta -Memberi tak selamanya berbentuk uang, kisah berikut ini saya dengar lagi dari sahabat saya Mas Jamil, saat ia memberikan penutup dalam rangkaian Anugerah DD award yang belum lama ini dilakukan.Ya, kisah ini membuat saya semakin sadar bahwa sebagai manusia mereka membutuhkan banyak hal dan kadangkala tidak selamanya berbentuk materi. Berikut tuturnya:Suasana ulang tahun Soraya anakku di Panti Asuhan Raudathul Jannah benar benar meriah, semua tertawa gembira menyaksikan badut-badut yang memang sengaja diundang untuk meramaikan ulang tahun anakku yang hari itu merayakan ulang tahunnya yang keempat.Tembok dan bangunan gedung panti asuhan itu belum banyak yang berubah, bahkan kini cat putih yang biasa menyelimuti gedung itu kini semakin bersih. Pohon mangga yang biasa kami jadikan tempat berteduh, sedang berbuah lebat sekali. Wajah Ustad Ahmad pemilik panti, yang bersih kini semakin terlihat bersinar walau rambutnya mulai ditumbuhi rambut putih menyeluruh di rambutnya.Ingatanku menerawang menembus kuat sekali pada kembali pada masa-masa ketika aku di rumah yatim piatu ini 25 tahun yang lalu. Aku teringat kecerian dan kegembiraan bersama teman-teman ketika mendengar akan ada orang kaya yang ingin berulang tahun di panti asuhan dimana aku tinggal, karena itu berarti kami bisa makan enak, bisa dapat kado, bisa bernyanyi bersama. Aku tersenyum kecil, malu rasanya mengingat hal itu.Di panti, dulu aku dikenal sebagai anak nakal, karena selepas mengaji setiap magrib, aku tak langsung belajar, melainkan nonton TV di rumah Anton teman sekolahku yang juga tetangga panti, bahkan seringkali aku harus pulang berjingkat-jingkat agar tak ketahuan Bapak Ust Ahmad. Karena jika terlihat aku pulang dari menonton, aku bakal harus menulis berulang-ulang 'saya ingin belajar agar bisa sukses' hingga seratus kali dan besoknya selepas subuh masih harus menimba air bak mandi.Aku tahu Abah Ahmad, demikian sekarang anak-anak santri menyebutnya, tak menyangka aku hadir lagi di sini bahkan dengan keluargaku. Ia telah menyaksikan aku sukses. Ini pasti juga karena doa-doa yang ia panjatkan setiap kami selesai salat lima waktu."Ayah, kapan lilinnya ditiup, aku sudah tidak sabar lagi nih," ujar Soraya mengejutkan aku, sambil bergelayut manja, di bahu tanganku. Tangannya yang mungil itu mulai mengelus-elus janggut tipisku."Oh ya, sekarang aja kita mulai," ujarku sambil mengajak Ustad Ahmad mendekat."Kita akan mulai acara ini dengan sama-sama membaca basmalah," kataku lagi.Aku jelaskan kehadiranku di yayasan yatim piatu ini, sementara Soraya sudah mulai mendekati kue tar, ia ingin segera mungkin meniup lilin. "Selanjutnya adalah doa untuk Soraya, yang akan dipimpin oleh Ustad Ahmad.""Anak-anaku sekalian, bergembiralah, hari ini ada saudara kita yang berulang tahun, Soraya, putri Pak Budi ini berulang tahun dan memilih tempat di rumah kita. Mengapa demikian, karena beliau dahulu juga seperti kalian, pernah tinggal di rumah ini, ia ingin kembali mengenang masa-masa dulu. Dan alhamdulilah kini beliau telah sukses hidupnya, bahkan kini ia bekerja pada sebuah bank asing terkenal di Indonesia," tutur Pak Ahmad perlahan, suaranya makin lama makin mengecil."Mari kita doakan juga semoga Soraya menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya, menjadi anak yang solehah, dan sesukses ayah dan ibunya, amin. Anak-anakku, kalian bisa seperti Pak Budi jika kalian belajar dengan tekun dan bekerja dengan cerdas, bukan demikian Nak Budi?" katanya sambil menoleh ke arahku.Aku tak menyangka bakal ada pertanyaan seperti itu hanya dapat mengangguk perlahan. Semua mata memandang ke arahku. Akhirnya acara berdoa pun selesai. Soraya menyegerakan meniup lilin sementara istriku menyiapkan makanan dan membagi-bagikan kado dibantu badut-badut dari perusahaan restoran terkenal tempat ia bekerja. Semua nampak bergembira.Namun di sudut lain dekat pintu masuk ruangan pertemuan itu, aku melihat tatapan kosong dari pancaran mata anak kecil yang sedari tadi terdiam. Ia tampak tak segembira rekan-rekan lainnya, kalaupun bertepuk tangan seperti tak semangat. Seperti tak punya api kehidupan, bahkan tiba-tiba, terlihat olehku, mata anak kecil itu semakin meleleh, kian deras.Perlahan aku bergeser mendekatinya, kusaksikan bulir-bulir air bening mulai menetes di sela-sela pelupuk mata. "Nama Kamu siapa dan kenapa menangis?" tanyaku.Ia terdiam. Menatapku dalam-dalam. Kepalanya tertunduk, lalu berkata, "Saya Ita, Om. Boleh nggak aku minta sesuatu?" katanya perlahan"Boleh. Ita minta apa sayang? kataku perlahan."Tapi Om nggak marah dan mau memenuhi permintaan Ita?" tanyanya lagi."Nggak. Om nggak akan marah, memang Ita minta apa sih, Ita mau tas sekolah ya?" tanyaku lagi."Om benar nggak akan marah?" tanyanya lagi sambil menatap wajahku."Tidak. Om tidak akan marah, Om mau dengar kamu mau minta apa sih? kataku lagi."Om, Ita mau panggil Om ayah, Ita ingin punya ayah," katanya perlahan."Ita ingin seperti Soraya yang juga punya Bapak, punya Ibu, yang mau menemani Ita kalau ambil rapor seperti teman-teman Ita yang lain," lanjutnya lagi."Lho Ita kan sudah punya Ustad Ahmad di rumah ini."Ia mengeleng-gelengkan kepala. "Maksud Ita bukan itu Om. Ita ingin punya Bapak," ujarnya perlahan nyaris tak terdengar."Om, boleh kan kalau ita panggil Bapak," katanya sambil menatap mataku. Seperti tersengat listrik mendengar ungkapan itu. Aku tak menyangka sama sekali bahwa ia akan meminta itu kepadaku. Tatapan matanya meminta persetujuanku. Aku tak kuasaberdiri, seluruh persendian itu tiba-tiba terasa lepas, aku langsung bersujud, kupeluk anak kecil itu, sementara Soraya anakku menyaksikan semua.Dekapan itu begitu erat seperti tak ingin terlepas sebentar sekalipun. Jari-jari yang mungil semakin keras mencengkram pundakku. Aku jadi teringat cengkeraman anakku kalau ia marah jika tak jadi kubelikan kue kesayangannya. Ah, sekeras apapun cengkaraman itu tak terasa sakit sama sekali, bahkan yang kurasakan adalah kehangatan. Isak tangis itu pun perlahan-lahan berhenti. Ita mulai merenggangkan dekapannya. Aku pun perlahan mulai memegang pundaknya.Seraya menatap wajah anak itu. Ita tersenyum, bahagia sekali. Aku pun demikian. Sementara Soraya anakku semakin mendekat, lalu aku dekapkan keduanya di dadaku dalam-dalam. Semua menangis haru.Penggalan kisah di atas adalah kisah yang benar-benar terjadi, atau bisa jadi kita sendiri pernah merasakan itu. Oleh sebab itu janganlah pernah berhenti untuk memberi. Jangan pernah berhenti memberi apapun. Amin.*) Yuli Pujihardi adalah Corporate Secretary & Resources Mobilization Dompet Dhuafa.
Langganan:
Postingan (Atom)